baluap


Merdeka tapi Semu
Juli 25, 2014, 7:06 am
Filed under: Motivasi

        Merdeka!!!!!……..Satu kata tersebut masih selalu teringat di kepala saya hingga saat ini. Kata dimana kita diingatkan bahwa bangsa ini adalah bangsa yang berdaulat. Bangsa ini adalah bangsa yang bebas dalam arti tidak banya tekanan dan tidak lagi diatur oleh bangsa lain. Bebas akan ketergantungan atau bebas dari utang dari negaralain. Kata dimana berarti kita bebas menentukan arah langkah kita atau arah langkah bangsa dan Negara ini. Di sekolah sekolah selalu di ajarkan bagaimana dulu para pejuang memperoleh kemerdekaan. Diajarkan mengenal tokoh para pahlawan negara ini. Dan sadar atau tidak sadar, hal tersebut memeberikan cerminan di dalam pikiran saya untuk kagum dan takjub akan perjuangan mereka. Perjuangan yang di peroleh dengan susah payah, dengan mengorbankan segalanya termasuk nyawa. Perjuangan yang didasarkan pada satu semangat yaitu bebas dari belenggu penjajahan. Semangat yang didasarkan pada satu tekad, yaitu bangsa yang mandiri dan berdaulat. Lantas, bagaimana kenyataannya saat ini ? apakah kemerdekaan saat ini sudah mampu membuat kita mandiri ? perjalanan 68 Tahun ini sudah memapu membuat kita berdaulat penuh untuk mengatur rumah tangganya sendiri ? dan apakah negara ini benar benar sudah lepas dari penjajahan yang sebenarnya ?

            Beberapa minggu yang lalu kita baru saja melaksanakan pesta demokrasi besar yang kita laksanakan setiap lima tahun sekali. Yaitu Pemilihan Umum. Memilih calon legislatif yang akan duduk di parlemen dan tentunya adalah memilih Presiden dan Wakil Presiden negara ini. Satu ciri dimana negara sudah bebas dalam mengatur rumah tangganya sendiri. Dan rakyat sudah melek akan hak politiknya, rakyat sudah sadar bahwa suara mereka sangat menentukan arah kebijakan Negara ini untuk lima tahun kedepan. Merinding saya melihat di daerah saya, dimana pada saat tanggal 9 Juli kemarin, dengan penuh semangat setiap wara berbondong-bondong mendatangi TPS yang ada dengan membawa peralatan kerja mereka. Ada yang mau ke sawah, ladang, kantor, berpakaian dinas, dlsb. Membuat saya teringat dalam rekaman inventaris Negara ini yang menunjukkan bagaimana kondisi pemilu yang pertama dilaksanakan pada tahun 1955 (http://www.youtube.com/watch?v=ngbMHN-cjO8). Situasi dimana rakyat begitu antusias dalam mengikuti pemilu karena rakyat merindukan perubahan ya perubahan ke arah yang lebih baik. 68 Tahun sudah Negara ini  menikmati kemerdekaannya. Namun, apakah kita sudah benar benar merdeka ? Apakah kita benar benar sudah bisa mengatur negara kita sendiri tanpa ada intervensi dari Negara lain ? Apakah kita benar-benar terbebas dari belenggu penjajahan ? Apakah kita benar benar sudah bebas dari kemiskinan ? Apakah pekerja pekerja kita benar benar sudah mendapatkan haknnya secara penuh dan sejahtera ?

            Berdasarkan data dari Bank Indonesia atau BI (http://www.bi.go.id/id/ruang-media/info-terbaru/Pages/Utang-Luar-Negeri-Indonesia-Januari-2014.aspx) jumlah hutang luar negeri kita sebasar yaitu USD 269,3 atau setara dengan Rp. 3,096, Triliun dengan kurs USD 1 sama dengan Rp. 11,500. Jumlah warga miskin per Maret 2013 yaitu sebesar 28 Juta orang (http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&id_subyek=23&notab=1) serta jumlah pengangguran di neagara kita sebesar 7 juta orang. Dimana kesemuanya itu masih dalam tahap produktif. Pertumbuhan ekonomi memang dinilai sangat baik. Laju dengan pertambahan ekononomi diatas 5 % selama quartal pertama pertama 2014 dinilai cukup baik meskipun sedikit lebih rendah dibandingkan pada periode yang sama tahun lalu.

            Selain itu, selain data diatas, tentu ada beberapa indikator dalam menentukan baik atau tidaknya tingkat pertumbuhan ekonomi. Salah satunya adalah iklim usaha yang kondusif. Termasuk juga didalamnya segala sesuatu yang berhubungan dengan para pekerjanya. Banyak perusahaan-perusahaan dengan tingkat manajemen yang sudah baik, menjadikan pegawainya sebagai asset dan menghargai mereka dengan melihat serta memenuhi kesejahteraan mereka. Pengusaha dan karyawan/pegawai adalah dua unsur utama yang wajib di penuhi dalam menjalankan suatu usaha, baik usaha kecil atau besar. Ini artinya, komponen keduanya sangatlah bergantung satu sama lain. Dan sangat terbuka untuk dapat dijalin kerjasama yang baik. Namun dalam kenyataannya, masih banyak perusahaan yang notabene masih merenggut hak-hak karyawannya. Tidak menganggap karyawan sebagai asset. Dan terutama tidak memberikan kesejahteraan mereka dengan memenuhi KHL atau Kebutuhan Hidup Layak Mereka. Jnagan kan untuk menabung, meneuhi kebutuhan hidup pun sudah pas-pas an. Jadi tidak heran, jika masih ada saat ini pekerja Sarjana yang bergaji rendah atau bahkan lebih rendah dari office boy sekalipun. Sebut saja perusahaan A. Dimana masih menggaji karyawan mereka dengan sangat rendah. Bahkan THR pun masih di tahan. Sungguh ironis memang. Di tengah-tengah situasi dimana bangsa dan negara ini sedang merangsang atau meningkatkan PDB nya, justru masih ada perusahaan yang masih menahan hak-hak karyawannya. Dan bahkan masih ada perusahaan yang sengaja mencari cari kesalahan karyawannya untuk dapat di berlakukan Pemutusan Hubungan Kerja secara sepihak. Selain memenuhi kebutuhan hidup layak, perusahaan pun wajib meningkatkan skil dan kompetensi karyawannya dalam rangka memajukan harkat dan martabat bangsa dan negara ini. Selain itu, kasus lain yang juga banyak terjadi yaitu, penggajian yang tidak berimbang. Dalam arti, karyawan/i yang sudah lebih masuk lebih dulu, ada yang di gaji jauh lebih rendah dari yang baru masuk kerja. Sungguh-sungguh memprihatinkan. Saya tidak tahu bagaimana konsep yang di terapkan sehingga bisa terjadi seperti itu. Dan ada juga yang memperlakukan karyawannya dengan memberikan tanggung jawab besar, namun bergaji rendah. Memang banyak faktor yang menentukan kenapa hal tersebut bisa terjadi. Diantaranya tingkat pendidikan dan ketrampilan yang masih rendah. Dimana hal ini di dorong oleh rasa enggan untk mau mengupgrade kemampuannya. Biaya pendidikan dan ketrampilan yang masih sangat sulit untuk di jangkau. Adanya penyelewengan di tingkat birokrasi dan penyelenggaraan tata cara hukum ketenagaa kerjaan yang dinilai masih memihak pada yang berkepentingan. Hal ini juga di perparah dengan kondisi pahlawan devisa negara ini. Ya, mereka adalah para TKI yang bekerja di luar negeri. Banyak informasi yang banya kita lihat baik di media cetak, televise atapun internet kasus-kasus yang menimpa saudara kita disana. Mulai dari penganiyayaan, pelecehan seksual, pemerasan, penipuan hingga tak jarang kita lihat berujung pada kematian. Ya Kematian. Lantas apa tindakan dari pemerintah kita. Pemerintah bukan tinggal diam, diplomasi pun tetap dijalankan. Tapi apa daya, sepertinya pengaruh negara kita masih belum cukup untuk bisa mengubah keputusan negara lain.

            Perjuangan masih panjang. Banyak pekerjaan rumah yang harus di selesaikan. Pemerintahan baru sudah terpilih. Harapan rakyat dipertaruhkan. Janji-jandi beserta program yang sudah dicanangkan hendaknya tidak hanya sebatas retorika dan wacana di awang –awang. Rakyat sangat merindukan adanya perubahan-perubahan nyata dalam negara ini yang kaatanya sudah merdeka ini. Buruh atau pekerja sangat merindukan upaya pemerintah yang nyata untuk perbaikan kesejahteraan ke arah yang lebih baik. Dan terlebih dari semua itu, pemerintah yang sudah terpilih dan untuk semua rakyat Indonesia, mari kita sama sama mengisi kemeredekaan ini dan mempertahankannya. Sehingga cita cita para pendiri negara ini yaitu menjadi negara yang merdeka, bersatu, adil dan makmur serat berdaulat dapat terwujud dengan nyata dan bukan menjadi kemerdekaan sifatnya semu.

            Selamat hari ulang Tahun ke 68 Negara Republik Indonesia, Dirgahayu Republik Indonesia ke 68.

            MERDEKA!!!!!!!!

Iklan