baluap


Generasi Muda, Generasi Sehat
Mei 31, 2014, 3:58 pm
Filed under: Motivasi

WHO menetapkan tanggal 31 Mei sebagai hari tanpa tembakau sedunia. Hal ini  ditetapkan pada Tahun 1988 melalui resolusi WHA42.19. Mungkin beberapa orang tidak terlalu mengerti arti hari tanpa tembakau sedunia. Barangkali 31 Mei itu kurang akrab di telinga masyarakat sebagai sebuah hari peringatan dunia.

Tetapi, terlepas dari tahu atau tidaknya, mari kita sama sama melihat fakta sejarah kenapa 31 Mei dijadikan sebagai hari anti tembakau sedunia. Hari tanpa tembakau sedunia di canangkan karena melihat besarnya pertumbuhan perokok di Amerika, Jepang dan beberapa Negara di Eropa dan bahkan di Australia. Di satu sisi, peningkatan perekonomian akibat cukai dari setiap satu rokok harus diakui sangat signifikan. Bahkan pendapatan Negara ini di Tahun 2012 mencapai Rp. 83 Trilliun dan akan dinaikkan 100 Trilliun pada Tahun ini. Sungguh angka yang fantastis memang. Mengingat akibat yang ditimbulkan oleh rokok juga sangat mematikan. (sebutkan sumber datanya, tempat dan tanggal). Fakta menyebutkan tingkat kematian akibat merokok adalah setara  dengan 22.5 dari jumlah warga Negara Indonesia. (sebutkan sumber datanya)

Namun disisi lain, tingkat kerugian dan dana yang harus dikeluarkan akibat penyakit yang ditimbulkan oleh rokok justru jauh melebihi dari pendapatan yang di terima oleh rokok itu sendiri. Data menyebutkan,(sebutkan sumber data) Rp. 130 Ttrilliun adalah dana yang dihabiskan hanya untuk membakar rokok serta hampir Rp. 3 Trilliun hanya untuk biaya rawat inap. Belum lagi ditambah dengan biaya yang di keluarkan untuk perobatan serta penyakit yang di timbulkan tidak hanya bagi perokok tersebut, namun lebih parahnya penyakit yang timbul bagi orang-orang di sekitar. Hal berbahaya yang sebenarnya adalah bukan segala sesuatu yang saya sebutkan diatas. Jumlah perokok di Indonesia sendiri adalah sekitar 146 juta jiwa. Dimana 36.1 persen diantaranya adalah Pria dewasa, dan 67 persen lainnya adalah Remaja dan anak anak mulai usia 13 hingga 15 Tahun. Dan di prediksi angka ini akan terus bertambah seiring dengan naiknya pendapatan serta gaya hidup. Lalu, bagaiman sikap kita melihat kondisi ini? Apakah cukup dengan berpangku tangan tanpa berbuat apa-apa?Mereka semua adalah generasi penerus bangsa Indonesia. Orang-orang yang akan memerintah di negeri ini 10 atau 20 tahun yang akan datang. Tentunya kita ingin mereka menjadi pemimpin yang sehat. Agar senantiasa dapat membawa bangsa ini menjadi lebih baik. Membiarkan mereka adalah perbuatan yang menjadikan mereka menjadi generasi tidak sehat. Dan secara langsung memutus generasi cerdas yang akan membangun bangsa kita.

Gaya hidup saat ini menunjukkan perubahan yang sangat signifikan. Hal ini terkait dengan pencarian jati diri, hidup pada era digital, pergaulan, serta berbagai macam konsumsi yang tersedia bebas di pasaran. Hal ini sangat dimanfaatkan oleh banyak industri rokok untuk bisa masuk dan mempengaruhi gaya hidup anak muda saat ini.

Di sisi lain, jumlah perokok tua yang semakin sedikit.  Mau tidak mau membuat industri harus putar otak agar produk ini tetap laris dan menjadikan anak muda sebagai target utama. Promosi gencar melalui olah raga, music concer, dan berbagai hal lainnya, menjadi pintu masuk bagi rokok untuk merusak generasi muda.

Melalui tulisan ini saya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memerangi bahaya ini. Sekaligus menghimbau kepada pemerintah untuk segera membuat regulasi tegas terkait peredaran rookok yang semakin marak saat ini. Terkhusus di kalangan anak-anak dan remaja.

Banyak hal yang bisa kita lakukan. Edukasi tentang bahaya rokok melalui iklan, pendidikan formal di sekolah, tempat ibadah, dan terpenting adalah pendidikan dari keluarga. Mungkin ini sudah terdengar kuno. Namun saya pikir ini masih merupakan cara efektif dalam membentuk karakter anak dan remaja dalam menghadapi lingkungan mereka, mempersiapkan mental mereka dalam memilah akan segala sesuatu.

Mari kita sama sama memerangi bahaya laten ini dengan segala kemampuan kita dan juga berdoa agar harapan dan impian ini tidaklah sia-sia.

Salam.Generasi Muda, Generasi Sehat

Iklan